Seperti halnya di perusahaan, biaya operasional di sekolah juga perlu ditekan. Jika biaya untuk kegiatan belajar-mengajar tidak mungkin menjadi sasaran penghematan karena akan mengurangi pengalaman dan membatasi ruang eksporasi siswa dan siswi, sejumlah sekolah di berbagai belahan dunia telah selangkah lebih maju dan memilih solar system sebagai sumber kelistrikan mereka. Tidak hanya sebagai elemen penghemat biaya, solar system juga menjadi objek pelajaran nyata mengenai energi terbarukan untuk mereka.

Jepang

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang sudah cukup banyak mengaplikasikan energi terbarukan di berbagai sektornya. Sejak lebih dari satu dekade lalu, pemerintah Jepang telah meresmikan inisiatif baru, yaitu School New Deal initiative, yang merestorasi gedung-gedung sekolah di Jepang agar tahan gempa dan ramah lingkungan menggunakan solar system.

Tokyo Institute of Technology, Tokyo, Jepang (Sumber foto: gizmodo.com)

Tepatnya di bulan April 2009, Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi sudah menargetkan implementasi solar system di 12,000 sekolah.

India

Negara berkembang India juga sudah mulai mengaplikasikan solar system secara masif—termasuk di sekolah dan berbagai bangunan institusi pendidikan. Energi surya mereka manfaatkan untuk memanaskan air, aktivitas laboratorium, menerangi ruangan-ruangan auditorium sekolah. Penghematan biaya listrik dan kesadaran untuk melestarikan lingkungan menjadi motivasi sekolah-sekolah di India ini menggunakan solar system.

Sri Aubindo International Centre of Education (SAICE), Pondnicherry, India

Sejak tahun 2014, Sri Aubindo International Centre of Education (SAICE) di Pondicherry, India beroperasi dengan menggunakan solar system. Tidak hanya untuk keperluan listrik di gedung sekolah tersebut, sekolah ini juga memasok listrik untuk sejumlah bangunan di sekitarnya.

Jerman

Herwig Blankertz, Wolfhagen, Jerman (Sumber foto: inhabitat.com)

Sebuah sekolah di Wolfhagen, Jerman sepenuhnya menggunakan solar system untuk kelistrikan dan aktivitasnya. Sekolah yang diresmikan tahun 2010 ini sebelumnya adalah sebuah barak peninggalan perang dunia. Sekolah kejuruan ini merupakan contoh arsitektur ‘hijau’ yang sekaligus berperan sebagai pembelajaran dan panutan pelestarian lingkungan yang baik bagi para siswa siswinya.

Denmark

Copenhagen International School, Copenhagen, Denmark (Sumber foto: architectmagazine.com)

Sejak tahun 2017, bangunan Copenhagen International School’s dibalut dengan 12,000 panel surya. Ini adalah bangunan pembangkit listrik terintegrasi terbesar di Denmark. Solar system di sekolah ini memasok daya listrik sebesar 300 MWh per tahun dan memenuhi seluruh kebutuhan listrik sekolah.

Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia mulai bergerak dan tak mau kalah.

Beberapa tahun belakangan ini, sejumlah bangunan sekolah di Indonesia mulai mengimplementasikan solar system. Tahun 2014 lalu, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) I Jakarta menjadi “pilot project” untuk penggunaan solar system, sebagai bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Solar system ini dipasang di atas bangunan baru sekolah dan menghasilkan listrik bagi 16 kelas, empat ruang guru dan empat kamar mandi bagi para siswa dan siswi.

SMA Pradita, Surakarta, Indonesia (Sumber foto: Dokumen SolarNation)

Pada tahun 2018, SolarNation juga mengeksekusi pemasangan solar system On-Grid di Sekolah Menengah Atas (SMA) Pradita, di Surakarta. Solar system ini mensuplai listrik sebesar 21 kWp, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari di sekolah, seperti lampu di kelas-kelas dan penggunaan listrik di laboratorium.

Ingin tahu lebih banyak mengenai implementasi solar system di bangunan sekolah? Segera hubungi SolarNation!