Apa kesamaan yang dimiliki oleh Republik Rakyat Tiongkok dengan India?

Keduanya sama-sama memiliki catatan “kontribusi” polusi dan efek gas rumah kaca terbesar dengan tingkat kesehatan udara yang sangat buruk. Namun uniknya, keduanya kini juga dikenal sebagai negara-negara besar dan berkembang dengan kesadaran penggunaan energi terbarukan terbaik di dunia, menyaingi negara-negara maju di Eropa seperti Jerman, Swedia dan Denmark.

Seperti apa peran keduanya dalam pelestarian sumber energi terbarukan dunia? Apa kiranya pelajaran yang bisa diambil? Simak paparannya di bawah ini!

Republik Rakyat Tiongkok

Sebagai negara dengan populasi tertinggi di dunia, pemilik ekonomi terbesar ke-dua setelah Amerika Serikat, dan negara dengan hasil industri terbesar di dunia, bukan hal yang mengherankan kalau udara Tiongkok dikotori polusi akibat berbagai aktivitas manusianya.

Contohnya saja, dikutip dari Reuters, tingkat PM 2,5—sebutan untuk partikel tak kasat mata pada udara yang dapat menyebabkan penyakit mematikan—di 28 kota di wilayah Beijing-Tianjin-Hebei meningkat 24% pada awal tahun 2019.


Lalu apa yang dilakukan Tiongkok untuk mengatasi masalah ini?

Solar Farm berbentuk Panda di Datong, Tiongkok (Sumber gambar: Curbed.com)

Pemerintah Tiongkok menjadikan misi pemanfaatan energi ramah lingkungan sebagai bagian dari program khusus “Revolusi Energi”. Upayanya pun menunjukkan hasil yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Antara tahun 2005 hingga 2014, produksi sel surya di Tiongkok telah meningkat hingga 100 kali lipat. Pada tahun 2015, Tiongkok memproduksi energi surya hingga 43 GigaWatt (GW), dan tahun 2016, Tiongkok menggunakan 150.000 paten teknologi energi terbarukan, atau sama dengan 29% dari keseluruhan pemakaian di seluruh dunia.

Tahun 2018, berbagai proyek teknologi energi terbarukan pun semakin banyak diaplikasikan oleh Tiongkok. Kapasitas total energi terbarukan di Tiongkok yang tercatat per akhir tahun 2018, termasuk energi hidro, biomassa, surya, dan angin, meningkat menjadi 728 GW berdasarkan data National Energy Administration (NEA), dengan energi surya sendiri sebesar 44.3 GW.

India

Tak jauh berbeda dengan Tiongkok, India juga merupakan “rumah” bagi berbagai aktivitas industri. Polusi udara pun tak terhindarkan sehingga menimbulkan berbagai kerugian bagi masyarakat India, seperti tertundanya penerbangan, kegiatan sekolah yang terpaksa harus diberhentikan sementara, hingga kecelakaan-kecelakaan lalu lintas.

India masih banyak menghasilkan polusi dari aktivitas produksi energi bahan bakar fosil. Selain India, ada Tiongkok, Indonesia, dan Afrika Selatan yang tercatat sebagai negara penyumbang polusi terbesar. Sebanyak 86% dari 193 GW produksi energi batu bara dikembangkan di negara-negara ini.

Menurut catatan World Health Organization (WHO), pada tahun 2016, 11 dari 12 kota di India memiliki kadar PM 2,5 tertinggi di dunia. Paling parah adalah kota Kanpur dengan kadar PM 2,5 sebesar 173 microgram (mcg), disusul dengan Faridabad dengan 172 mcg. Udara di kota New Delhi yang dihuni sekitar 19 juta orang juga sangat buruk dan dikatakan berpotensi perlahan mengubah kualitas warna pada dinding bangunan. Tahun 2017, polusi disebut menewaskan 1,24 juta jiwa atau sama dengan 12,5% dari total kematian di India pada tahun tersebut.

Lalu bagaimana pemerintah India menyikapi hal ini?

Ya, dengan penggunaan teknologi energi terbarukan.

Meskipun masih banyak pihak yang menyangsikan karena status polusi di India yang begitu besar serta produksi energi batu bara yang juga masih berlangsung, India juga tengah mengembangkan kapasitas energi terbarukan miliknya dengan pesat.

Per Oktober 2018, India merupakan negara dengan kapasitas energi terbarukan terbesar ke-5 di dunia. Tahun 2016, instalasi teknologi energi surya dan angin melebihi gol tahunannya yang masing-masing sebesar 43% dan 116%. Untuk tahun 2022, India berencana mengaplikasikan energi terbarukan berdaya 175 GW. Jika didukung dengan kebijakan yang tepat oleh pemerintah, sangat memungkinkan untuk India mencapai targetnya memperbaiki kondisi udara.

Solar Farm di Telangana, India (Sumber foto: Wikipedia)

Kapasitas listrik terbarukan juga meningkat cukup tajam di India dalam beberapa tahun terakhir. Fokus pemerintah India akan isu ini memang meningkat sejak Paris Agreement. Dengan dukungan yang bertambah dari pemerintah dan dukungan sektor ekonomi lainnya, India memiliki potensi menarik investor dari negara-negara asing.

Saat ini pada sektor kelistrikan, energi terbarukan berperan sebesar 34,6% dari seluruh total kapasitas negara di India. Target India berikutnya adalah menjadi negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya pada tahun 2040 dengan kapasitas 15,829 Terra Watt hour (TWh), dan energi terbarukan berperan besar di dalamnya.

Belajar dari Tiongkok dan India

Tiongkok dan India belum sepenuhnya menggunakan energi baru terbarukan. Keduanya juga masih memproduksi energi fosil dan menyumbangkan karbon dioksida (CO2) ke udara. Namun keduanya juga telah mewujudkan lebih banyak proyek pengembangan energi baru terbarukan dengan dukungan dari pemerintahnya. 

Indonesia turut berpartisipasi dalam Kesepakatan Paris (Paris Agreement) mengenai perubahan iklim. Pemerintah juga telah menunjukkan niat dan komitmen untuk lebih banyak menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi melalui UU dan sejumlah peraturan perundangan, di antaranya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi yang mengharuskan pemerintah pusat dan daerah mendorong penggunaan energi terbarukan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 yang menargetkan bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2050. Pada praktiknya, tahun 2018 lalu persentase energi baru terbarukan di Indonesia memang baru sebesar 11% dari keseluruhan energi nasional.

Indonesia memiliki potensi besar dalam hal energi baru terbarukan, khususnya energi surya karena intensitas limpahan matahari yang kita dapatkan.

Mari optimis bahwa Indonesia bisa lebih banyak memanfaatkan energi terbarukan seperti halnya Tiongkok dan India, sehingga target dan komitmen Paris Agreement kita tercapai.

Ingin tahu lebih banyak soal energi terbarukan khususnya energi surya? Jangan ragu untuk segera menghubungi SolarNation!