Energi-energi terbarukan termasuk tenaga surya disebut-sebut sebagai salah satu bagian dari solusi dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya pemanasan global. Tenaga surya bahkan dianggap energi alternatif paling menjanjikan di masa depan karena memiliki efek lingkungan yang paling minim di antara semua pilihan sumber energi yang ada.

Namun tanpa dapat dipungkiri, fenomena pemanasan global saat ini terus berlanjut. Jika pemakaian energi surya dapat mengurangi pemanasan global, sebaliknya, bagaimana pengaruh pemanasan global dan iklim yang berubah-ubah terhadap solar system?

Pemanasan global yang mengkhawatirkan

Pemanasan global semakin mengkhawatirkan. Temperatur pada atmosfer semakin tinggi. Setiap hari lapisan ozon—lapisan pada atmosfer yang melindungi manusia dari sinar matahari berbahaya—semakin menipis, salah satunya disebabkan oleh karbon dioksida. Kadar karbon dioksida terus meningkat dengan penyebab beragam, mulai dari peristiwa alami seperti radiasi matahari dan erupsi gunung berapi, hingga peristiwa yang diakibatkan perilaku manusia, seperti polusi, jumlah lahan hijau dan pepohonan, hingga peningkatan Efek Gas Rumah Kaca.

Perubahan iklim yang besar menyebabkan penggunaan energi yang juga kian masif di berbagai belahan dunia. Dengan temperatur bumi yang naik, meningkat pula kebutuhan energi manusia, termasuk untuk kebutuhan mengaktifkan peralatan-peralatan pendingin.

Energi surya mengeluarkan emisi karbon paling sedikit dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.

Energi surya di tengah fenomena pemanasan global

Energi surya dan semua bentuk energi terbarukan adalah solusi terbaik yang saat ini manusia miliki untuk melawan dan menghadapi pemanasan global. Energi surya saat banyak diunggulkan dibandingkan energi terbarukan lainnya karena mengeluarkan emisi karbon paling sedikit dibandingkan dengan sumber energi lainnya.

Sejumlah penelitian dan investigasi telah dilakukan untuk mengetahui akibat pemanasan global terhadap produksi energi surya. Tidak seperti perkiraan, temperatur tinggi bumi tidak serta-merta meningkatkan produksi energi surya. Faktanya, suhu yang terlalu tinggi melebihi kapasitas panel surya justru akan mengurangi efektifitas panel itu sendiri karena sistem kemudian mengalirkan arus listrik yang besar dengan tegangan yang rendah. Karena itu, dampak pemanasan global terhadap panel surya dan solar system di berbagai daerah berbeda tidak bisa disama ratakan. Tetap saja, wilayah dengan intensitas matahari yang lebih tinggi selalu memproduksi energi surya lebih baik.

Salah satu akibat pemanasan global yang diperkirakan akan terasa adalah semakin banyaknya kebutuhan akan energi surya, karena manusia yang lebih sadar untuk menggunakan energi terbarukan. Energi ini tidak habis, bersih, tidak menyebabkan kerusakan lingkungan. tidak menimbulkan polusi saat pemakaian, hanya membutuhkan perawatan yang relatif sederhana, dan yang paling penting, dari tahun ke tahun energi surya semakin terjangkau. Meskipun ada sebagian yang berpendapat bahwa energi surya juga membawa dampak kurang baik terhadap lingkungan yang diakibatkan proses produksi panel surya, hal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan emisi yang diakibatkan proses eksplorasi energi konvensional.

Energi surya kini semakin banyak digunakan termasuk di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Di Indonesia sendiri penerapan energi surya sebagai sumber listrik sudah menyebar hingga ke desa-desa, termasuk proyek instalasi yang pernah dilakukan SolarNation di Bumi Ratu, Lampung.

Dengan konsumsi energi dunia yang akan terus meningkat seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi—diperkirakan akan meningkat tajam hingga tiga kali lipat pada tahun 2050—tantangan bagi manusia adalah bagaimana memilih energi yang tepat agar emisi gas rumah kaca dapat menurun, dan bumi tetap lestari. Pelaku industri energi terbarukan, khususnya energi surya, perlu terus memutar otak dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan energi yang bersih.

Ingin tahu lebih banyak mengenai energi surya dan solar system? Tak perlu ragu untuk segera hubungi SolarNation!