Berbagai artikel media dan pakar lingkungan kerap memaparkan keunggulan memilih tenaga surya sebagai sumber listrik, baik untuk kebutuhan listrik rumah tangga, maupun perkantoran. Namun demikian, penetrasi dan implementasi solar system masih sangat kurang di Indonesia, dan belum mendominasi dunia. Bisa jadi salah satu alasan di balik hal ini adalah karena adanya sejumlah mitos mengenai solar system. Apa sajakah mitos yang umumnya menyebar di masyarakat? Lalu bagaimana faktanya? Simak paparannya berikut!

  • Biaya solar system yang mahal

Ya, pemasangan awal solar system membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun Return on Investment (ROI) dapat dipastikan akan didapat pemilik rumah paling tidak dalam jangka waktu 3 hingga 7 tahun (tergantung dari berbagai faktor yang memengaruhi, seperti lokasi, energi yang dihasilkan dan listrik yang digunakan) setelah pemasangan disertai berbagai manfaat solar system lainnya membuat investasi dalam jumlah besar di awal. Apalagi, sebenarnya harga solar system di berbagai wilayah di dunia kini sudah semakin terjangkau. Sejak tahun 1985, biaya panel surya per modul terus mengalami penurunan dari $7 per WP hingga kini pada kisaran $1 per WP.

  • Solar system tidak bekerja dengan baik pada iklim tertentu

Faktanya, memang solar system akan lebih mudah bekerja menyerap paparan cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik pada wilayah-wilayah beriklim tropis dengan paparan cahaya matahari yang berlimpah seperti Indonesia. Namun bukan berarti solar system tidak bisa bekerja maksimal pada iklim lainnya.

Pada iklim-iklim dingin dan bersalju, sebagian besar panel surya dipasang pada sudut yang membantu puing salju jatuh setelah terakumulasi, dan mudah tersapu air saat hujan. Buktinya saja, Jerman sebagai negara beriklim dingin di Eropa merupakan salah satu negara pengguna tenaga surya terbesar di dunia.

Umumnya teknisi pemasang solar system sudah semakin andal dalam menginstalasi panel surya pada posisi ideal dan tetap terlihat modern pada bangunan. (Sumber foto: renewfinancial.com)

  • Perawatan solar system rumit dan memakan biaya

“Pemasangan panel suryanya saja perlu melibatkan langsung sejumlah teknisi dan petugas yang sudah berpengalaman. Bagaimana dengan perawatannya?”

Solar system pada dasarnya justru tidak membutuhkan perawatan yang berlebihan. Panel-panel surya memang dibuat sangat awet dengan rata-rata daya tahan setidaknya 25 tahun. Namun upaya perawatan sederhana tetap bisa dilakukan secara berkala. Sebaiknya pemilik tetap rajin memeriksa kondisi panel surya, terutama jika rumah dikelilingi pepohonan tinggi yang berpotensi menjatuhkan ranting-ranting kecil ke permukaan panel surya. Adapun SolarNation juga memberikan layanan perawatan gratis disertai garansi.

  • Panel surya mengurangi tampilan estetika

Tak jarang pemilik rumah yang khawatir tampilan panel surya di atap rumahnya akan mengurangi nilai estetika. Kenyataannya, justru sebaliknya. Dengan semakin berkembangnya pemakaian solar system, kini teknisi dan staf penyedia solar system semakin andal dalam memasang panel surya pada posisi lebih ideal. Bahkan, sudah banyak bangunan yang terintegrasi panel surya dengan hasil tampilan gaya arsitektur modern.

Solar system juga tidak merusak atap seperti yang banyak dikatakan orang, justru bisa berperan sebagai pelindung atap rumah dari “serangan” debu-debu dan kotoran alam lainnya.

Efisiensi energi dengan memanfaatkan tenaga surya terus meningkat sejak pertama kali diperkenalkan. Generasi muda akan terus berinovasi untuk efisiensi yang lebih maksimal di tahun-tahun mendatang. Peran kita adalah memulainya agar menginspirasi generasi mendatang. Jadi, tunggu apa lagi?

Jika Anda masih ingin mengonfirmasi mitos lain mengenai pemasangan solar system, segera hubungi SolarNation untuk mengetahui faktanya!