Jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju baik di Eropa maupun Asia, seperti Jerman, Jepang, atau Tiongkok, pemanfaatan energi solar di Indonesia masih jauh dari maksimal. Padahal, sebagai negara tropis yang terletak di bawah garis khatulistiwa, Indonesia punya potensi yang sangat besar, bahkan mengungguli negara-negara maju Eropa yang sudah banyak mengaplikasikan tenaga surya. Pemerintah dan pelaku industri tenaga surya masih memiliki “pekerjaan rumah” dalam menyebarluaskan edukasi akan manfaat dan kelebihan beralih ke solar system sebagai sumber listrik kepada masyarakat Indonesia pada umumnya.

Upaya pemerintah

Pemerintah sebenarnya sudah mulai melakukan upaya untuk mendorong industri komponen tenaga surya untuk menjadi salah satu fokus dan prioritas. Ya, pengembangan industri Photovoltaic (PV) di Indonesia telah menjadi fokus dari Kementerian Perindustrian. Dari pengembangan industri hulu dan intermediate menjadi arah perkembangan jangka menengah dan panjang PLTS di Indonesia. Hal ini tercantum dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2016–2035 yang merupakan penjabaran UU no. 3/ 2014 tentang Perindustrian.

Pemerintah telah melakukan upaya untuk mendorong perkembangan aplikasi solar system di Indonesia. (Sumber foto: amigogroup.co.id)

Tak hanya itu, melalui berbagai inisiatif dan proyek, pemerintah dan sejumlah pelaku industri energi telah menunjukkan upaya mereka mempromosikan pemanfaatan tenaga surya. Pemerintah pun menargetkan akan mengalirkan listrik dengan teknologi panel surya untuk 2500 desa terpencil di Indonesia. Tahun lalu di Desa Balang Datu Sulawesi Selatan, sebanyak 422 rumah mulai menikmati listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpusat. Kapasitas listrik yang disalurkan mencapai 100 Kilowatt Peak (kWp). Konon, pembangunan-pembangunan PLTS di berbagai wilayah terpencil, memang menjadi salah satu fokus program yang tengah dijalankan pemerintah, dalam upaya meningkatkan akses energi kepada masyarakat.

Pemerintah daerah juga memelopori penggunaan solar system pada bangunan kantor mereka, contohnya kantor Pemprov Bali yang menggunakan tenaga surya sejak tahun 2016 dan ternyata dianggap mampu menghemat penggunaan listrik hingga 30%.

Target dan potensi di masa depan

Indonesia diyakini memiliki potensi tenaga surya 10 kali lipat dibandingkan Jerman. Namun, penerapan PLTS di Indonesia masih sangat kecil, yaitu sebesar 86 Megawatt Peak (mWp) (0,02% terhadap potensi). Pemerintah pun memperkirakan potensi PLTS yang dipasang di atap bangunan akan mencapai 1,8 Giga Watt (GW) sampai 2 GW pada tahun 2020. Diharapkan target 6,5 GW energi surya tercapai pada 2025 dengan capaian hingga saat ini sudah 11%.

Jumlah pelanggan PLN di Jakarta yang memasang panel surya hingga Maret 2018 sudah mencapai 400 pelanggan dengan pertumbuhan rata-rata 200 pelanggan per tahun. Sebagian besar mereka adalah pelanggan rumah tangga.

Berdasarkan survei potensi pasar yang dilakukan Institute for Essential Services Reform (IESR) dan GIZ (sebuah yayasan pembangunan dari Jerman) baru-baru ini, setidaknya ada 4 hingga 4,5 juta rumah tangga di pulau Jawa yang berminat untuk memasang solar system karena tertarik dengan potensi penghematan listrik sebesar 30%, skema kredit dan biaya investasi yang dapat kembali di bawah jangka waktu paling lama 8 tahun.

Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) pun optimistis Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap (GNSSA) tyang diluncurkan dalam rangka mendorong dan mempercepat pembangunan PLTS pada hunian, fasilitas umum, perkantoran, bangunan, dan area industri, tercapai pada tahun 2025.

Indonesia sebagai negara tropis di garis khatulistiwa memiliki potensi tenaga surya yang jauh mengungguli Jerman. (Sumber foto: priskop.com)

German Federal Government pernah mengeluarkan data dan prediksi terkait sumber energi primer dunia hingga 2100, dan mengatakan bahwa mulai tahun 2030, sumber energi primer yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dunia, seperti minyak, batu bara dan gas bumi akan mengalami penurunan drastis dan akan digantikan dengan sumber energi terbarukan terutama energi surya.

Bukan tidak mungkin suatu hari tenaga surya dan solar system menjadi pilihan utama di Indonesia. Yuk, mulai dari diri Anda!

Tertarik untuk menilik potensi solar system sebagai sumber listrik Anda lebih jauh? Segera hubungi SolarNation!